Meningkatnya Investasi Tidak Berwujud

Di masa lampau, ketika ingin menghitung seberapa besar nilai kepemilikan atau aset yang dimilikinya, seseorang menghitung dan mengukurnya dari kepemilikan fisik atas barang yang dimilikinya. Ukuran ini selama berabad-abad telah dipakai umat manusia untuk mengukur kemakmuran individu, perusahaan, atau negara.

Namun sekarang, muncul ukuran baru untuk mengukur kemakmuran, yaitu dengan mengukur nilai benda-benda yang tidak berwujud (intangible investment). Investasi ini dapat berupa ide, pengetahuan, estetika, peranti lunak, merek, jaringan, hasil riset, kerjasama, dan segala hal yang bisa menambah nilai dari pihak yang memilikinya. Hal-hal seperti ini di masa lampau sering tidak masuk dalam perhitungan ekonomi atau akuntansi, tetapi kini malah sangat menentukan bagi tumbuh-kembang individu, perusahaan, atau negara yang memilikinya. Nilainya sering jauh melampaui kepemilikan benda fisik.

Akuntan dan ahli statistik memandang pengeluaran yang dilakukan untuk investasi tidak berwujud ini, misalnya investasi untuk riset atau pelatihan, bukan dipandang sebagai investasi, hanya dilihat sebagai pengeluaran biaya sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang tidak benar. Karenanya, dasar pemikiran utama yang melandasi buku ini ialah bahwa sekarang telah terjadi pergeseran yang cukup mendasar dan berbeda terkait dengan pengukuran aset dan investasi. Investasi yang berharga telah bergeser ke bentuk investasi yang tidak berwujud, yang sangat berbeda dengan bentuk investasi di masa-masa sebelumnya.

Besarnya nilai investasi tidak berwujud ini bisa dicontohkan dengan apa yang dimiliki Microsoft. Nilai pasar Microsoft pada tahun 2006 ditaksir US$ 250 miliar. Jika Anda melihat neraca yang dimilikinya, yang mengukur besarnya aset miliknya, kepemilikan dalam jumlah uang kas dan instrumen finansial lainnya hanya US$ 70 miliar. Adapun nilai aset pabrik, gedung, dan segala perangkat yang dimilikinya hanya US$ 3 miliar. Sisanya merupakan aset yang tidak berwujud dan jumlahnya besar sekali. Dengan demikian, modal utama yang dimiliki Microsoft saat ini sebagian besar adalah aset yang tidak berwujud. Inilah yang dinamakan kapital (modal) yang tidak berwujud yang menelurkan istilah kapitalisme tanpa kapital, karena modal sebenarnya merupakan benda tidak berwujud, yang tidak kelihatan wujudnya.

Dalam perkembangannya, jenis modal yang tidak berwujud ini semakin besar dan semakin penting peranannya dalam tumbuh-kembang perusahaan. Modal atau nilai perusahaan Microsoft terletak pada nilai merek, rantai suplai, struktur dan budaya perusahaan, dan sumber daya manusia yang mengelolanya. Bukan modal atau aset fisik, tetapi berbagai modal nonfisik tersebut yang memungkinkan Microsoft hingga saat ini dapat terus tumbuh dan berkembang, serta tetap dinilai tinggi oleh para investornya.

Baca juga  Saham Asia Diperdagangkan Beragam Di Tengah Kurangnya Arah Yang Jelas, Nada Risiko Membebani

Terdapat perbedaan yang mendasar antara investasi tidak kelihatan dengan investasi barang fisik yang selama ini telah kita kenal dengan baik. Setidaknya ada empat ciri utama investasi yang tidak kelihatan ini.

Ciri pertama, investasi ini biasanya merupakan biaya yang terpendam (sunk cost). Ketika kita memiliki modal yang berwujud, misalnya mesin pabrik, mesin tersebut memiliki harga tertentu. Bahkan ketika telah menjadi barang bekas dan tidak bisa digunakan lagi, mesin itu masih tetap ada harganya untuk dijual sebagai besi tua. Lain halnya dengan investasi yang tidak berwujud. Misalnya, Toyota melakukan investasi jutaan dolar untuk mengembangkan sistem produksi landai (lean production system) yang terkenal itu, yang telah membawanya menjadi perusahaan otomotif ternama di dunia. Setelah sistem tersebut tidak dipakai lagi nantinya, investasi yang ditanamkannya menjadi tidak ada bekasnya.

Ciri kedua, rentan terhadap terjadinya kebocoran (spillovers). Banyak pihak lain yang tidak turut melakukan investasi bisa turut mendapatkan keuntungan darinya. Berbagai sistem kerja atau penemuan bisa dengan mudah ditiru dan dikembangkan pihak lain tanpa harus melakukan investasi yang berarti. Jika Anda melakukan investasi berupa membangun pabrik, hanya andalah yang nantinya bisa memakai pabrik itu. Namun, jika Anda melakukan investasi untuk menemukan cara atau teknologi baru, akan banyak pihak lain yang bisa turut serta mengambil untung dan menjadi pesaing, tanpa harus melakukan investasi awal atau memberikan kontribusi bagi terjadinya penemuan itu. Walaupun di sini ada hukum paten, penggunaan cara dan teknologi oleh pihak lain yang tidak turut berkontribusi tetap sulit dihindari.

Ciri ketiga, bisa digandakan dengan mudah (scalable). Sebagai contoh, Coca-Cola. Pabrik awalnya memang ada di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, tetapi ramuannya bisa disebarkan ke seluruh dunia dengan mudah dan cepat. Program komputer yang dihasilkan Microsoft juga dapat digandakan dengan mudah, murah, dan cepat dalam skala dunia. Biaya penggandaan investasi yang tidak kelihatan ini sangatlah murah. Bandingkan dengan benda fisik seperti pabrik; membangun pabrik di tempat yang berbeda akan memakan biaya yang besar dan waktu yang lama, tidak seperti investasi yang tidak kelihatan.

Baca juga  Australia: Kondisi Bisnis Naik, Kepercayaan Merosot – Westpac

Ciri terakhir, cenderung memiliki sinergi yang kuat dengan investasi yang lain. Investasi ini saling melengkapi dengan investasi yang lain, tidak bisa berdiri sendiri. Sebagai contoh, program komputer hanya bisa digunakan dengan baik jika ada perangkat komputernya. Investasi yang bagus di bidang program komputer tidak bisa berbuat banyak jika perangkat komputernya tidak mendukung. Kombinasi yang tepat akan menentukan suatu investasi itu akan berkembang atau tidak. Investasi di e-commerce berkembang dengan cepat karena investasi sarana dan prasarana yang mendukung teknologi itu juga telah berkembang dengan sangat cepat. Suatu ide jika digabungkan dengan ide yang lain akan mendatangkan sesuatu yang lebih hebat. Maka, sifat investasi yang tidak berwujud ini cenderung interdisipliner.

Walau dipandang semakin penting, banyak kesulitan yang harus dihadapi ketika hendak mengelola investasi yang tidak berwujud ini. Kesulitan utama terletak pada masalah pengukuran. Sesuatu yang tidak bisa diukur tidak bisa memberikan hasil yang optimal. Sesuatu yang tidak berwujud memang sulit mengukurnya.

Kesulitan lainnya, tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi dan perubahannya bisa terjadi sangat cepat. Apa yang dipandang saat ini sebagai sesuatu yang amat berharga, di lain waktu yang dekat bisa berubah menjadi tidak ada nilainya sama sekali. Selain itu, begitu dimunculkan, semua pihak akan dengan cepat berlomba-lomba untuk memanfaatkannya. Pihak yang melakukan investasi awal malah bisa tertinggal untuk dapat memanfaatkannya secara optimal. Sehingga, pihak yang menjadi pionir bisa jadi tidak akan mendapatkan apa-apa.

Walaupun investasi tidak berwujud ini sangat penting di masa depan, banyak investor enggan melakukan investasi di bidang ini karena risikonya besar. Risiko dan ketidakpastiannya sangat tinggi dan sulit diukur. Akibatnya, banyak lembaga keuangan semacam perbankan yang juga sulit untuk turut mendanai investasi seperti ini. Memang saat ini ada modal ventura, tetapi persyaratannya lebih rumit dibandingkan pembiayaan untuk investasi yang berwujud.

Baca juga  Selandia Baru: Belanja Ritel Terus Meningkat Pada Bulan September - Westpac

Untuk itu, agar investasi seperti ini bisa terus berkembang, perlu dibangun dan dikembangkan infrastruktur lunak (soft infrastructure) berupa norma, standar, dan aturan yang mengatur kerjasama serta interaksi antara individu, perusahaan, dan pemerintah agar risikonya tidak terlalu besar. Saat ini yang paling diperlukan adalah regulasi yang jelas dan lengkap agar pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan perhitungan yang matang dan lebih pasti, mengingat tingkat ketidakpastian investasi seperti ini sangat tinggi.

Pemerintah harus lebih aktif berinvestasi di bidang yang tidak berwujud ini. Harus semakin banyak dana dikucurkan untuk kegiatan yang akan menghasilkan investasi ini. Misalnya, untuk bidang pendidikan, pelatihan, dan riset, sehingga hasilnya bisa dinikmati banyak pihak dengan mudah. Pihak swasta cenderung akan keberatan melakukan investasi semacam riset ini, apalagi jika menyangkut riset dasar. Negaralah yang harus turun tangan melakukan kegiatan ini.

Peran pemerintah ini juga diperlukan untuk meminimalkan kesenjangan yang semakin lebar di antara perusahaan. Perusahaan besar akan cukup mampu membiayai investasi yang tidak berwujud ini karena memiliki sumber daya yang mencukupi. Usaha kecil akan sangat berat jika harus membiayai investasi ini mengingat tingkat ketidakpastiannya yang sangat tinggi.

Selain itu, lembaga pendanaan yang konvensional belum memiliki instrumen yang memadai untuk membantu mendanai investasi yang tidak berwujud ini. Saat ini di Indonesia, Pemerintahan Joko Widodo telah banyak membangun sarana infrastruktur fisik di mana-mana. Sudah saatnya kebijakan mulai dialihkan untuk memperbanyak investasi di bidang nonfisik ini. Memperbanyak investasi tidak berwujud yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pihak. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dilihat dari kemajuan infrastruktur fisiknya, tetapi juga dari berapa banyak bisa diciptakan inovasi, pengetahuan, karya kreatif, cara kerja baru, dan berbagai hal yang tidak berwujud lainnya. Investasi tidak berwujud merupakan aset masa depan yang tidak bisa diabaikan lagi.

Eko Widodo: Staf Pengajar Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Unika Atma Jaya, Jakarta Sumber

error: Terima kasih sudah mampir.
%d blogger menyukai ini: