Mengapa Startup Perlu Fokus pada Aset Tak Berwujud Sejak Awal

Semua perusahaan teknologi sukses belakangan ini punya satu kesamaan: nilai tambah yang mereka ciptakan dari “bit” jauh lebih besar dibanding dari “atom”. Izinkan saya menjelaskannya.

Bit versus atom

Atom adalah aset fisik yang dimiliki suatu bisnis, seperti persediaan barang dagang, properti, infrastruktur, dan karyawan. Bit adalah aset digital atau tak berwujud, termasuk software dan kekayaan intelektual.

Bit punya kemampuan disrupsi lebih besar. Mereka dapat didistribusikan dengan lebih cepat, ditingkatkan skalanya dengan lebih mudah, serta membutuhkan biaya lebih murah dibanding atom (per unit penjualan). Perusahaan yang fokus pada bit untuk menciptakan nilai tambah dapat menghasilkan rasio antara pendapatan terhadap investasi yang lebih tinggi.

Meski demikian, meraih laba pada hakikatnya hanyalah efek samping dari strategi fokus pada bit. Tujuan utamanya adalah membangun produk yang inovatif dan efisien, meningkatkan pengalaman pengguna, serta menghemat biaya.

Perusahaan-perusahaan teknologi besar memahami hal ini. Mereka memfokuskan strategi investasi masing-masing pada bit, serta menjauh dari atom. Meski mereka melakukannya dengan tanpa sadar pun, keinginan untuk meraih laba lebih tinggi telah menuntun mereka ke arah yang sama.

Coba tengok Apple. Bisnis utamanya seolah memproduksi beragam gawai fisik, tapi laba mereka yang sesungguhnya datang dari aset tak berwujud: merek yang terkenal, komputasi awan, App Store, iTunes, dan tentu saja iOS.

Amazon pada mulanya bercita-cita untuk menjual buku fisik, tapi sebagian besar penghasilan—serta porsi kontribusi terhadap laba—mereka pada saat ini datang dari penawaran-penawaran tak berwujud seperti Amazon Web Services, Marketplace, Prime, dan Kindle.

Ini adalah pelajaran penting bagi para founder perusahaan teknologi. Saat merancang model dan strategi bisnis startup, para pendiri perlu memisahkan atom dan bit yang dimiliki. Pada masa-masa awal bisnis, mereka mungkin perlu bergantung pada atom untuk memastikan kualitas dan efisiensi, seperti yang dulu dilakukan Apple dan Amazon.

Seiring perkembangan perusahaan, tujuan utama perusahaan perlu bergeser ke arah outsourcing dan digitalisasi aset secara perlahan. Baik pasar ataupun masyarakat selalu mencari cara-cara yang lebih efisien untuk mendapatkan nilai tambah, dan perusahaan yang fokus pada bit dapat memenuhi kebutuhan ini secara lebih mudah.

Baca juga  Forex Profit Konsisten = Forex Hoki

Jangan salah sangka dulu. Pada akhirnya, kita hidup di dunia atom. Sebagian besar hal yang kita anggap berharga memiliki “wujud” dibanding “informasi”. Hal yang perlu kamu lakukan adalah:

  • Membuat bisnis perusahaan condong pada bit untuk menggerakkan atom, serta
  • memiliki biaya variabel yang terkait dengan atom seminimal mungkin.

Kendalikan atom untuk mengontrol kualitas

Saat ada perusahaan baru memperebutkan pangsa pasar, kualitas dari produk atau layanan yang ditawarkan jauh lebih penting ketimbang laba perusahaan. Pengguna baru enggan berpaling dari pemain besar ke startup anyar yang hanya menawarkan produk pas-pasan.

Kendali yang lebih ketat pada atom mungkin diperlukan untuk memastikan kualitas tinggi di masa-masa awal perusahaan. Inilah mengapa Apple memulai bisnisnya dengan memiliki sendiri hampir semua pabrik. Setelah menjadi perusahaan besar seperti pada saat ini, mereka baru mengontrak perusahaan-perusahaan lain untuk melakukan proses manufaktur.

Saat startup meraih sukses dan memasuki usia matang, mereka bisa mulai melakukan outsourcing dan memiliki lebih sedikit aset berwujud, seperti yang dilakukan Apple.

Ninja Van, perusahaan logistik yang mendapatkan pendanaan dari kami (Monk’s Hill Ventures) pada 2015, adalah contoh lain dari strategi bisnis ini. Saat Ninja Van berekspansi ke suatu kota baru, mereka melakukan pengendalian kualitas pada layanan yang ditawarkan.

Mereka merekrut sendiri karyawan dan menyewa langsung armada truk dan sepeda motor untuk melakukan pengiriman barang. Seiring waktu, mereka mulai bekerja sama dengan pihak-pihak ketiga untuk membuat bisnisnya mampu beroperasi dengan jumlah aset lebih sedikit.

Nilai dari aset digital

Atom memiliki daya tarik tinggi karena mereka memiliki nilai yang relatif stabil. Di lain sisi, hal yang mampu menimbulkan disrupsi pasar secara luas dan membuat startup jadi unicorn adalah bit.

Baca juga  Urgensi Mentor Dalam Trading Forex

Saat saya dan seorang co-founder membangun Match.com, pada dasarnya kami berusaha mengubah suatu bisnis yang bergantung pada atom—iklan untuk diri sendiri—menjadi sesuatu yang lebih mudah dikembangkan serta terdiri dari bit yang efisien. Sama halnya pada sektor transportasi.

Ada banyak perusahaan logistik dan transportasi sebelum Uber. Mereka melakukan investasi besar untuk menambah jumlah armada dan truk. Uber mampu berkembang jadi sebuah perusahaan transportasi besar tanpa mengeluarkan biaya belanja modal tinggi, semata-mata karena mereka berhasil melakukan efisiensi proses pemesanan tumpangan secara digital.

Startup yang fokus pada bit punya potensi untuk bersinar di Asia Tenggara, karena kebanyakan perusahaan konvensional masih menganut model operasi yang fokus pada atom. Siapa yang mampu menghadirkan inovasi punya peluang untuk sukses.

Kadang pemerintah lokal akan memberikan hambatan pada perusahaan-perusahaan yang fokus di dunia digital. Tapi, para konsumen di Indonesia, Thailand, dan Vietnam haus akan efisiensi dan kecepatan layanan. Mereka cenderung cepat mengadopsi tren digital yang baru muncul.

Perusahaan yang memiliki sedikit aset fisik dapat mengembangkan bisnis dengan lebih mudah. Ini juga faktor penting bagi perusahaan yang menjalankan bisnis di region dengan perkembangan ekonomi tinggi, seperti Asia Tenggara.

Wacana ini tak hanya berlaku di ekosistem startup teknologi. Bahkan perusahaan-perusahaan yang berbisnis di dunia nondigital juga tengah mencari cara untuk melakukan “perampingan”. Bila sebuah perusahaan mendapatkan laba dari menjual barang fisik, perusahaan tersebut bakal mencari cara untuk menjual barang secepat mungkin sehingga tidak mengendap terlalu lama di gudang.

Makin banyak perusahaan bergerak ke dunia virtual untuk mengurangi atom di portofolio investasi masing-masing. Beberapa di antaranya mengurangi jumlah karyawan demi mengejar struktur yang ramping.

Bit dan strategi

Sederet startup sukses dari Asia Tenggara bisa berjaya karena telah menemukan cara untuk mengarungi dunia fisik sambil tetap fokus pada bit masing-masing. Di samping berguna dalam membangun dan mengelola aset-aset digital, menjadikan bit dan atom sebagai dasar pemikiran dapat membantu pengusaha mengambil keputusan investasi waktu dan biaya yang bersifat strategis.

Baca juga  Apakah Expert Advisor (EA)

Saat mengelola atom pun, pola pikir dan teknologi digital lah yang jadi patut landasan untuk mengendalikan arah atom tersebut. Strategi ini bisa mempersiapkan perusahaan untuk bertransformasi ke arah digital dan masa depan yang lebih menguntungkan.

Memaksimalkan nilai adalah filosofi yang perlu kamu jadikan landasan dalam usaha menyeimbangkan aspek atom dan bit.

Bahkan dalam aspek rekrutmen karyawan yang berkutat di dunia atom sekalipun, pola pikir bit versus atom mampu memberikan pandangan baru. Karyawan adalah atom, jadi para pengusaha perlu merekrut kandidat-kandidat terbaik bila ingin membentuk struktur organisasi yang mampu mengeluarkan potensi penuh para anggotanya.

Pertimbangkan apa yang bisa disumbangkan oleh tiap karyawan baru. Makin efektif karyawan tersebut, makin sedikit perusahaan membutuhkan anggota tim. Dengan kata lain, makin banyak karyawan yang kamu butuhkan untuk menghasilkan satu miliar rupiah, kemampuan yang bisa kamu tuntut dari para karyawan tersebut juga makin standar.

Memaksimalkan nilai adalah filosofi yang perlu kamu jadikan landasan dalam usaha menyeimbangkan aspek atom dan bit. Saat membangun bisnis, para founder tak hanya perlu menawarkan nilai tambah baru kepada pasar, tapi juga melakukannya dengan efisien dan menghemat biaya.

Selain demi mengembangkan usaha, fokus pada aspek bit juga membantu para pengusaha untuk menciptakan produk atau sistem inovatif yang dapat memberikan pengalaman lebih baik kepada para konsumen. Sejak para founder mulai memikirkan ide untuk membangun bisnis, mereka perlu mencatat semua atom dan bit yang dimiliki, memberi nilai untuk tiap aset, serta mengejar struktur perusahaan yang ramping di masa depan.

Peng T Ong

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Iqbal Kurniawan sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)