Implementasi dan Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan di Indonesia

Pada Februari 2019 lalu, Bukalapak bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung meresmikan Pusat Inovasi Kecerdasan Buatan dan Komputasi Awan. Langkah tersebut disusul oleh Tokopedia yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Kecerdasan buatan, atau yang dikenal sebagai artificial intelligence (AI), memang merupakan salah satu teknologi yang makin banyak didalami.

Pada prinsipnya, kecerdasan buatan merupakan teknologi yang membuat suatu sistem komputer mampu belajar, berpikir, dan bertindak secara mandiri. Biasanya dengan mempelajari tren dan sejarah aktivitas, untuk selanjutnya melakukan tindakan terkalkulasi.

Di Indonesia sendiri, AI sudah makin marak diadopsi. Survei pada lebih dari seratus pemimpin bisnis dan karyawan yang dilakukan IDC Asia/Pasifik serta Microsoft Indonesia menunjukkan baru empat belas persen perusahaan yang jadi responden menggunakan AI untuk kegiatan operasional masing-masing. Sementara 42 persen baru berencana ataupun sedang dalam tahap uji coba.

Pertumbuhan kecerdasan buatan yang cepat di Indonesia juga dirasakan oleh Irzan Raditya, CEO dari Kata.ai. Irzan merupakan salah satu pemain di industri AI dalam negeri, khususnya di bidang chatbot. Pada tahun 2015 ia mengembangkan layanan YesBoss, sebelum akhirnya meluncurkan Kata.ai pada 2016.

“Industrinya saat ini jelas lebih berkembang dibanding saat kami memulai bisnis (di bidang AI) pada tahun 2015 lalu. Hal ini bisa kami lihat secara kuantitatif dari meningkatnya jumlah kompetitor kami,” terang Irzan.

Dalam pantauan Irzan, saat ini ada sekitar 110 perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan AI. Angka tersebut meningkat jauh dari tahun 2015 yang hanya 4 perusahaan saja.

Kecerdasan buatan siap diterapkan di berbagai bidang

“AI sekarang mirip dengan mesin uap saat pertama kali ditemukan. Bisa menjadi pemicu revolusi industri,” ucap Meidy Fitranto selaku co-founder Nodeflux, startup yang bergerak di bidang intelligent video analytics. Meidy menilai, kecerdasan buatan memang menyimpan potensi besar dan bisa mengubah lanskap industri secara besar-besaran. Mulai dari sektor keuangan, kesehatan, logistik, hingga ritel.

Meidy mencontohkan, pengusaha ritel kini bisa lebih mudah memahami perilaku konsumen lewat produk yang ia kembangkan bersama Nodeflux. Mulai dari alur yang biasa dipilih konsumen saat berbelanja di toko, rak pada posisi mana yang paling efektif memasarkan barang, hingga stok barang yang tersedia. Produknya bisa memberikan data itu kepada pengusaha, selama di toko tersebut ada CCTV dengan kualitas memadai.

Bahkan di ranah entertainment (AI juga bisa diterapkan). Salah satunya filter selfie yang ada di Instagram atau Snapchat. Itu bisa jadi gimik marketing yang bagus juga.

Meidy Fitranto,
Co-founder Nodeflux

Industri asuransi pun tidak mau kalah dalam hal pengembangan kecerdasan buatan. Generali sebagai salah satu pemain di industri ini menjelaskan mereka juga mulai mengembangkan kecerdasan buatan sejak 2016 lalu. Saat ini, mereka telah memiliki tim beranggotakan tujuh orang yang bertugas mengadopsi AI ke layanan dan operasionalnya.

Baca juga  [Flash] Kredivo Terima Pendanaan dari Telkomsel dan MDI Ventures

Salah satu hasilnya adalah kini Generali memiliki fitur Auto Risk Management System (ARMS) untuk nasabah mereka. Sistem yang mereka bangun akan secara otomatis membandingkan fluktuasi pasar dengan profil risiko nasabah. Aset nasabah akan terkendali dan terproteksi secara otomatis, dan terhindar dari kerugian.

“Kita bisa juga gunakan AI untuk membaca driver behavior, sehingga pola berkendara seseorang bisa dicatat, dan jika ada kecelakaan bisa kita gunakan. Image recognition juga bisa dimanfaatkan untuk klaim kerusakan kendaraan,” jelas Dwi Widianto selaku Head of Data Science and Performance dari Generali.

artificial intelligence | image 1

Contoh pemetaan perilaku pengunjung yang dilakukan Nodeflux

Pria yang akrab disapa Toto tersebut menjelaskan, mengetahui pola berkendara seseorang akan sangat membantu perusahaan asuransi seperti Generali dalam mengukur tingkat risiko nasabah, sehingga mereka bisa menyiapkan strategi penetapan harga yang jitu untuk setiap individu.  Sayangnya, teknologi tersebut memang belum bisa diterapkan di Indonesia karena keterbatasan perangkat teknologi.

Sementara Irzan menilai, kecerdasan buatan bisa memberi dampak yang jauh lebih luas lagi. Ia meyakini bahwa setiap momentum kemunculan teknologi baru, akan selalu ada perubahan besar dalam tatanan ekonomi dan industri. Salah satunya yaitu lahirnya profesi atau bidang pekerjaan baru.

“Di akhir abad dua puluh tidak ada yang bisa membayangkan adanya pekerjaan seperti Social Media Manager maupun Youtuber.  Hal ini akan juga terjadi dengan teknologi AI. Akan muncul pekerjaan baru yang saat ini belum kita bayangkan, walaupun memang ada pekerjaan tertentu yang akan menjadi tidak relevan.”

Hadapi tantangan SDM

Industri AI sendiri masih tergolong baru hadir di Indonesia. Itu sebabnya, mencari tenaga kerja lokal yang mumpuni merupakan tantangan terbesar bagi perusahaan yang bergerak di bidang ini. Hal ini dialami oleh Irzan.

Baca juga  Rangkuman Berita Startup & Teknologi Indonesia dalam Sepekan – 6 Juli 2019

Irzan menyadari bahwa talent pool Indonesia sangatlah besar. Setiap tahun universitas di Indonesia mencetak banyak sarjana baru. Namun kendalanya bukan kuantitas, tapi pada kualitas. Materi yang diajarkan di bangku kuliah dirasa tidak lagi sesuai dengan kompetensi yang dicari oleh para pelaku industri saat ini.

“Yang jadi masalah adalah kualitas. Secara rata-rata, dari setiap lowongan yang kami buka, bisa ada lebih dari 100 aplikasi yang masuk. Dari 100, mungkin hanya ada 2 atau 3 yang kami kontak untuk interview.”

Belum lagi maraknya pembajakan talenta yang marak terjadi di kalangan startup teknologi. Ini tentu membuat persaingan mencari talenta potensial di bidang AI jadi makin sengit. Tak hanya dalam merekrut tenaga baru, perusahaan pun perlu strategi untuk menjaga agar karyawan tidak pindah ke perusahaan lain.

artificial intelligence | image 2

Tim Nodeflux

Permasalahan ini juga diamini oleh Meidy. Ia dan tim bahkan harus melebarkan pencarian ke negara-negara lain untuk mencari pekerja-pekerja lokal potensial yang bisa diajak membantu mengembangkan produk Nodeflux.

“Banyak diaspora-diaspora yang kita kontak, kita tarik pulang, kita ajak ngembangin industri ini dari dalam negeri. Sampai saat ini Nodeflux masih 100 persen mempekerjakan tenaga lokal.”

Tak hanya itu, Nodeflux pun berinisiatif untuk bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara (Binus). Mereka mengundang perwakilan dosen Binus untuk datang dan ikut mengembangkan produk dan layanan Nodeflux.

Harapannya, dengan begitu dosen juga jadi tahu kebutuhan industri saat ini seperti apa. Mulai dari kebutuhan teknisnya, proses bisnisnya, hingga kondisi pasarnya. Saya rasa itu penting”, jelas Meidy.

Perlu diadopsi dengan hati-hati

artificial intelligence | image 3 copy

Irzan Raditya, CEO Kata.ai dalam acara BukaTalks

Salah satu dampak dari perkembangan pesat industri kecerdasan buatan di Indonesia adalah banyaknya perusahaan yang ingin mengadopsi AI hanya untuk mengikuti tren, tanpa memiliki pertimbangan matang mengenai target maupun tujuan yang ingin dicapai. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Irzan.

Baca juga  [UPDATE] Lowongan Kerja Terbaru dari Tokopedia, InstantMac, dan Lainnya

Di satu sisi, Irzan menyadari bahwa cepat atau lambat, semua perusahaan harus mulai mengadopsi teknologi seperti AI agar tidak tertinggal. Namun di sisi lain, perusahaan juga perlu tujuan yang spesifik untuk memastikan mereka bisa mendapatkan hasil yang optimal.

“Idealnya, mereka harus fokus pada salah satu dari goal berikut ini secara satu-per satu. Meningkatkan kualitas customer experience, mengurangi biaya operasional, atau membangun sumber pendapatan baru.”

Irzan menilai upaya untuk mencapai ketiga hal tersebut secara sekaligus berpotensi membuat perusahaan kebingungan saat harus memprioritaskan fitur teknologi mana yang harus dikembangkan Alhasil, bisa membuat proyek tersebut menghabiskan investasi besar dalam waktu yang panjang namun tidak berdampak banyak untuk bisnis.

Hal senada juga diungkapkan Toto. Ia pun menambahkan, pada dasarnya pengembangan teknologi seperti kecerdasan buatan ini tentu membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit. Jadi perlu persiapan yang matang sebelum proyek tersebut dieksekusi.

“Kita sebagai engineer tentu senang kalau diminta membangun fitur atau produk. Bikin ini bikin itu, kalau akhirnya tidak membantu perusahaan buat apa? Perlu paham perusahaan butuhnya apa, user journey kita seperti apa, biar teknologi (yang dikembangkan) enggak sia-sia”, jelasnya.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Implementasi dan Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan di Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Implementasi dan Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.