Bagaimana Sebuah Blog Milenial Jadi Perusahaan Media dengan 50 Juta Pembaca

IDN Times situs yang dijuluki “BuzzFeed-nya Indonesia,” pada awalnya hanyalah proyek sampingan di 2014.

“Saya tidak suka diam, jadi mencari sesuatu yang bisa dilakukan setelah jam kerja,” kata Winston Utomo, yang ketika itu masih jadi karyawan di kantor Google Singapura. “Jadi, saya memulai sebuah blog dan memberinya sedikit nama ‘keren’: Indonesia Times.”

Blog yang dibuat Winston ternyata memiliki daya tarik di kalangan anak muda Indonesia. Saat itu pilihannya memang terbatas, kalau pun ada kebanyakan berupa majalah cetak seperti Hai atau Gadis (dan website mereka), yang masih berjalan seperti organisasi media lama. Sementara itu, BuzzFeed terus membangun khalayak luas di dunia berbahasa Inggris, tetapi yang versi Bahasa Indonesia belum ada.

Lima tahun kemudian: blog Indonesia Times telah berganti nama menjadi IDN Times, dan menelurkan tiga anak situs lainnya.

Dengan target pembaca milenial dan Generasi Z Indonesia, IDN Times dan anak situsnya secara kolektif meraih 50 juta pengunjung unik setiap bulan.

Winston sekarang adalah CEO IDN Media, perusahaan yang memiliki properti IDN Times dan tiga perusahaan lain yang menangani sisi bisnis. Winston tidak pernah berpikir blog yang ia buat bisa berjalan sejauh ini. “Bahkan ketika saya mulai menganggap ini serius,” katanya, merujuk pada waktu dia berhenti dari pekerjaannya.

Memperluas pasar baru

IDN Times yang mengusung tagline “Suara Milenial dan Gen Z,” terus menjadi situs utama IDN Media. Mereka mampu menarik 38,5 juta pengunjung unik per bulan, dan menerbitkan konten in-house (dengan topik umum dari politik hingga gaya hidup) dan yang disumbang oleh 90.000 penulis komunitas di seluruh Indonesia.

Pendekatan media berorientasi komunitas tampaknya memang populer di Indonesia – Kumparan, situs berita yang didirikan oleh para jebolan Detik, juga menerbitkan campuran konten in-house dan kontribusi masyarakat – dan Winston mengatakan strategi ini membantu mereka meningkatkan skala.

Komunitas kami adalah kunci IDN Times, karena kamu tidak dapat mempekerjakan 500 orang untuk menulis 500 artikel.

Winston Utomo,
CEO IDN Media

“Bagaimana kamu bisa [mempekerjakan] jumlah orang yang sama tetapi dengan konten 10 kali lebih banyak?”

Homepage IDN Times

Homepage IDN Times

Perbandingan dengan BuzzFeed datang bukan hanya karena sasaran audiens yang sama, melainkan juga karena konten kuis dan listikel IDN Times.

Sejak awal, 95 persen konten kami – selain dari hard news dan investigasi – haruslah listikel,” kata Winston. “Mengapa? Kami menargetkan milenial dan Generasi Z. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu di Facebook dan Instagram, yang [pada dasarnya] merupakan format listikel. ”

Dua situs IDN Media lainnya ditargetkan untuk wanita milenial. Popbela.com (6 juta pengunjung unik per bulan) mencakup topik-topik seperti fesyen, kecantikan, dan budaya pop, sedangkan Popmama.com (3 juta pengunjung unik per bulan) adalah panduan pengasuhan anak untuk ibu milenial.

Baca juga  [UPDATE] Lowongan Kerja Terbaru dari Tokopedia, InstantMac, dan Lainnya

Keputusan berekspansi ke pasar baru didasarkan pada tiga hal: permintaan pembaca dan audiensi total yang lebih spesifik; pendapatan potensial dari iklan dolar; dan kompetisi. Segmen pasar yang ramai seperti sepak bola tidak memungkinkan, jelas Winston. Contoh yang baik adalah bagaimana Popbela.com diluncurkan sebagai tanggapan atas banyaknya pembaca dan pengiklan, bahkan saat majalah cetak wanita mengalami penurunan.

Demikian pula, ada permintaan tinggi untuk konten makanan tetapi tidak dalam bentuk artikel: tetapi video. Peluang itu membuka jalan bagi Yummy, unit usaha terbaru IDN Media. Yummy  menghasilkan konten makanan dan resep melalui video pengajaran top-down seperti yang dipopulerkan oleh Tastemade dan Tasty-nya Buzzfeed.

Berbeda dari tiga yang lainnya, Yummy – yang menggunakan tagline #CookingMadeEasy—hanya menyebarkan konten melalui Facebook (1,1 juta like) dan Instagram (1,9 juta pengikut). Yummy diluncurkan dua tahun lalu, dan aplikasi selulernya sedang dalam pengerjaan.

Video resep di Instagram Yummy

Keempat properti media tersebut independen secara editorial, tetapi mereka berbagi sumber daya seperti teknik, pengembangan bisnis dan audiens. Ini memungkinkan perusahaan menjangkau pasar baru dengan ongkos operasional tetap terjaga baik.

Seperti halnya dengan sebagian besar perusahaan media, IDN Media menghasilkan uang melalui iklan. Produk dan layanannya meliputi konten bermerek dan iklan bergambar, serta aktivasi digital dan offline.

Klien mereka menjangkau berbagai industri, termasuk unicorn teknologi seperti Tokopedia, tetapi yang terbesar adalah yang berasal dari industri barang konsumen yang bergerak cepat (FMCG). Winston mengatakan, IDN Media tidak pernah memiliki masalah dalam menarik klien. Populasi kalangan muda Indonesia sebagai target demografis perusahaan sangatlah besar: usia rata-rata di Indonesia pada 2018 adalah 30,5 tahun.

Tidak sulit mendapatkan klien untuk memasang iklan. Yang sulit adalah menjadikan mereka klien yang datang lagi,”katanya. “Penjualan naik dan turun, tetapi layanan tetap selamanya. Kami benar-benar fokus pada layanan.“

Untuk melayani klien, perusahaan ini memiliki IDN Creative, agensi kreatif in-house, dan IDN Events, yang menyelenggarakan berbagai acara seperti ID Millennial Summit.

Gagasan di balik IDN Creative, khususnya, muncul setelah perusahaan melihat perubahan dalam cara sebuah brand bekerja dengan perusahaan media.

“Cara brand bekerja dengan media sebelumnya kebanyakan dalam penempatan iklan,” kata Winston. “Saat ini, mereka ingin melakukan kampanye 360 derajat: mulai dari iklan banner hingga acara, artikel, dan kolaborasi influencer.

Ini juga menyebabkan mereka meluncurkan IDN Creator Network, sebuah platform yang menghubungkan influencer dengan brand.

Ada lebih dari 3.000 influencer di IDN Creator Network, dari influencer mikro dengan puluhan ribu pengikut hingga yang besar dengan 10 juta pengikut dan lebih banyak lagi.

Baca juga 
Rangkuman Berita Startup & Teknologi Indonesia dalam Sepekan – 29 Juni 2019

Jaringan ini memperkuat posisi tawar mereka dengan brand yang ingin melakukan kampanye 360 derajat. Disaat yang sama, influencer mendapatkan keuntungan brand yang lebih besar dan brand pun mendapatkan manfaat dari standarisasi IDN Creator Network, yang mencakup kontrak dengan harga pasti sejak awal.

Menangani influencer tidak selalu mudah bagi brand yang kurang berpengalaman di bidang itu, kata Winston, bahkan ketika ia menunjukkan, “Kami memiliki tingkat keberhasilan 100 persen.”

Jalur lain monetisasi bagi perusahaan media adalah model berlangganan. IDN Media sedang menjajaki model itu untuk Yummy, tetapi Winston tidak yakin apakah itu dapat bekerja di situs mereka yang lain.

“Itu selalu jadi tipe model bisnis yang kami minati karena sejalan dengan visi kami untuk menyediakan konten berkualitas tinggi dan membuat dampak terbesar. Tetapi untuk model yang tepat, kami masih mempertimbangkan,” katanya.

Jika tidak dapat memberikan nilai tambah bagi pembaca, mereka enggan berlangganan.

,

Enam bulan yang sulit menjadi titik balik

Seperti yang sering terjadi dengan startup, tidak semuanya berjalan lancar.

Winston Utomo berbicara tentang periode sejak Februari 2016 yang ia sebut sebagai “enam bulan terberat” bagi IDN Media: Perusahaan – yang saat itu terdiri dari sekitar 30 orang, termasuk saudara dan Co-foundernya, William Utomo . Mereka kehabisan dana beberapa bulan setelah meraih pendanaan awal dari East Ventures. (Catatan: East Ventures merupakan investor yang sama di Tech in Asia.)

“Kesalahan saya adalah saya terlalu fokus pada produk dan melupakan peran saya sebagai pemimpin perusahaan,” katanya.

“Ketika ukuran tim kamu sekitar 0-20 orang, [peran kamu] adalah ‘pemimpin produk’, tetapi mulai 20-30 orang, peran kamu menjadi ‘pemimpin perusahaan’. Kamu seharusnya sudah memiliki tim yang dapat mengeksekusi produk dengan visimu. ”

Selama enam bulan itu, Winston mengatakan dia nyaris menghabiskan waktunya di rumah atau di kantor, termasuk akhir pekan yang dihabiskan untuk bekerja. Bahkan dia harus meminjam uang sebelum penutupan putaran pendanaan berikutnya dan menerima bantuan dari Willson Cuaca dari East Ventures.

“Itulah sebabnya kami selalu memikirkan pertumbuhan yang bertanggung jawab,” kata Winston. “Sejak saat itu, kami fokus pada pertumbuhan audiens dan pendapatan. Kamu tidak bisa hanya menumbuhkan pengguna: Kamu harus menumbuhkan keduanya. ”

Kantor IDN Times

Kantor IDN Times. Sumber foto: IDN Media

Perusahaan akhirnya meraih pendanaan seri A pada September 2016. Baru-baru ini, di awal tahun, mereka menyelenggarakan putaran seri C dengan nilai yang dirahasiakan.

Winston mengatakan bahwa 2018 adalah tahun pertama IDN Media mencetak laba.

Saat ini, dengan 250 karyawan penuh waktu, langkah perusahaan berikutnya adalah meluncurkan biro lokal di delapan provinsi di luar Jakarta, termasuk Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Ini adalah bagian dari strategi hiperlokal perusahaan.

Baca juga  [Flash] Waresix Raih Pendanaan Seri A Sebesar Rp205 Miliar dari EV Growth

“Sembilan puluh persen orang Indonesia tidak tinggal di Jakarta, tetapi 90 persen dari konten yang tersedia adalah tentang Jakarta,” kata Winston, sembari menekankan IDN Media berkantor pusat di Surabaya, kota kelahirannya dan kota terbesar kedua di Indonesia. “Sekarang, jika kamu membuka IDN Times di Bandung, misalnya, berita yang kamu baca akan relevan dengan wilayahmu.”

Mereka juga mencari akuisisi potensial. Winston mengatakan bahwa mereka tidak akan mengakuisisi perusahaan media yang sama: perusahaan apa pun yang mereka akan akuisisi masih berada dalam ranah media, tetapi dengan keahlian yang tidak dimiliki IDN Media.

“Kami belum memiliki ide konkret tetapi media sangat luas,” katanya. “Industri musik adalah [bagian dari] industri media, begitu juga taman hiburan atau esports. Kami masih mencari-cari. ”

Sandiaga Uno saat menjadi pembicara di Indonesia Millennial Summit

Sandiaga Uno, kandidat wakil presiden Indonesia, saat menjadi pembicara di Indonesia Millennial Summit. Sumber foto: IDN Times

Menurut data SimilarWeb, IDN Times adalah situs web ke-46 yang paling banyak dikunjungi di Indonesia dan ke-8 dalam kategori berita dan media. Tiga situs teratas dalam kategori tersebut adalah TribunNews (#4), Detik (#7), dan Yahoo (#10), yang semuanya terhubung dengan perusahaan media mapan dan menargetkan pembaca umum.

Kumparan, yang didirikan tahun 2017, berada di peringkat ke-91 secara keseluruhan. Sementara itu, Hipwee – situs web yang secara eksplisit menargetkan anak muda Indonesia – berada di peringkat 128.

Meski Winston percaya persaingan yang sehat sangat baik untuk industri, ia tetap berpikir bahwa perusahaan media juga harus ingat bahwa sebagian besar uang iklan masuk ke duopoli Facebook-Google.

“Mengapa perusahaan media harus saling bertarung ketika kamu tahu bahwa uang paling banyak masuk ke dua perusahaan itu?” Katanya. “Kita berada di kapal yang sama.”

Plus, kata Winston menambahkan, pesaing akan selalu berubah.

“Jika kamu fokus pada pesaing, kamu akan selalu selangkah di belakang mereka,” katanya. “Tetapi jika kamu fokus pada pengguna, kamu selalu di depan orang lain.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Bagaimana Sebuah Blog Milenial Jadi Perusahaan Media dengan 50 Juta Pembaca appeared first on Tech in Asia.

The post Bagaimana Sebuah Blog Milenial Jadi Perusahaan Media dengan 50 Juta Pembaca appeared first on Tech in Asia Indonesia.